Selasa, 06 September 2016

4 Dzulhijjah di Bukhara


Oleh: Syamsuar Hamka (Penulis Buku Api Tarbiyah)

Kekhalifahan Abbasiyah
Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: الخلافة العباسية, al-khilāfah al-‘abbāsīyyah) atau Bani Abbasiyah (Arab: العباسيون, al-‘abbāsīyyūn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dengan menerjemahkan dan melanjutkan tradisi keilmuan Yunani dan Persia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia. Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Nabi Muhammad yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Berkembang selama dua abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk (lihat: wikipedia.com).

Abbasiyah adalah kekhalifahan besar yang menorehkan kemajuan yang sangat besar dalam sejarah peradaban Islam. Dr. Mustafa as-Siba’i menuliskan bagaimana pembangunan ibukota kekhalifahan saat itu,
“Seluruh biaya yang dibelanjakan untuk membangun Baghdad mencapai 4.800.000 dirham, sedang jumlah pekerja yang bekerja di situ mencapai 100.000 orang. Baghdad mempunyai tiga lapis tembok besar dn kecil mencapai 6.000 buah di bagian timur dan 4.000 buah di bagian barat, Selain sungai Dijlah dan Furat, di situ juga terdapat 11 sungai cabang yang airnya mengalir ke seluruh rumah-rumah dan istana-istana Baghdad. Di sungai Dijlah sendiri terdapat 30.000 jembatan. Tempat mandinya mencapai 60.000 buah, dan di akhir masa pemerintahan Bani Abbas jumlah ini berkurang menjadi hanya beberapa puluh ribu buah. Masjid-masjid mencapai 300.000 buah, sementara penduduk Baghdad dan kebanyakan ulama, sastrawan dan filsuf sudah tak terhitung lagi jumlahnya.” (Lihat: Peradaban Islam, Mustafa as-Siba’i).

Namun seluruh keindahan itu sirna hingga hanya meninggalkan bekas-bekas sejarah. Sebab pada akhirnya, peradaban besar itu runtuh lewat serangan bangsa Mongol pada tahun 1258 yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad. Mereka membantai jutaan kaum muslim Baghdad, dan hanya beberapa saja yang selamat dari kekejamannya. Selain menghancurkan kota Baghdad, tentara Mongol juga membakar dan membuang buku-buku ilmu pengetahuan yang berada di perpustakaan Baghdad, saat itu banyak koleksi berharga ilmu pengetahuan hilang begitu saja. Serangan Bangsa Mongol digambarkan oleh Ibnu Taimiyah sebagai kengerian yang luar biasa, dan sulit diterima akal sehat. Ibnu Taimiyah adalah salah seorang yang selamat dari serangan tentara Mongol, beliau dan keluarganya berhasil melarikan diri ke Mesir.

Serangan Bangsa Mongol
Pada tahun 565 H/1258 M, tentara Mongol yang berkekuatan sekitar 200.000 orang tiba di salah satu pintu Baghdad. Khalifah Al-Musta'shim, penguasa terakhir Bani Abbas di Baghdad (1243 - 1258), betul-betul tidak berdaya dan tidak mampu membendung "topan" tentara Hulagu Khan.

Pada saat yang kritis tersebut, wazir khilafah Abbasiyah, Ibn Alqami ingin mengambil kesempatan dengan menipu khalifah. la mengatakan kepada khalifah, "Saya telah menemui mereka untuk perjanjian damai. Hulagu Khan ingin mengawinkan anak perempuannya dengan Abu Bakr Ibn Mu'tashim, putera khalifah. Dengan demikian, Hulagu Khan akan menjamin posisimu. la tidak menginginkan sesuatu kecuali kepatuhan, sebagaimana kakek-kakekmu terhadap sulthan-sulthan Seljuk".

Khalifah menerima usul itu, la keluar bersama beberapa orang pengikut dengan membawa mutiara, permata dan hadiah-hadiah berharga lainnya untuk diserahkan kepada Hulagu Khan. Hadiah-hadiah itu dibagi-bagikan Hulagu kepada para panglimanya. Keberangkatan khalifah disusul oleh para pembesar istana yang terdiri dari ahli fikih dan orang-orang terpandang. Tetapi, sambutan Hulagu Khan sungguh di luar dugaan khalifah. Apa yang dikatakan wazirnya ternyata tidak benar. Mereka semua, termasuk wazir sendiri, dibunuh dengan leher dipancung secara bergiliran.

Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut. Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir.

Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan peradaban Islam, karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.

Latar belakang yang menyebabkan invasi Mongol ke wilayah Islam adalah adanya peristiwa Utrar pada tahun 1218, yaitu ketika Gubernur Khawarizm membunuh utusan Jengis Khan yang disertai pula oleh para saudagar muslim. Jengis Khan mengirim 50 orang saudagar Mongol untuk membeli barang dagangan di Bukhara. Atas perintah amir Bukhara Gayur Khan, mereka ditangkap dan dihukum mati. Penangkapan tersebut disebabkan para pedagang Mongol tersebut melakukan tindakan kasar yang merugikan pedagang setempat. Peristiwa itu menimbulkan reaksi yang cukup hebat dari Jengis Khan. Hal tersebut menyebabkan Mongol menyerbu wilayah Islam dan dapat menaklukkan Transoxania yang merupakan wilayah Khawarizm tahun 1219-1220.

Jengis Khan memulai invasi ke Negara Islam di Negara Khawarizm Turkistan yang merupakan pemerintahan independen dari Khilafah Abbasiyah. Pasukan Mongol saat itu berjumlah 60.000 orang, ditambah sejumlah tentara yang direkrut dari rakyat yang ditaklukkan sepanjang perjalanan. Pasukan Khawarizm tidak bisa bertahan lama di hadapan pasukan Mongol. Karena tidak mempunyai pilihan lain, sultan Khawarirzm ‘Ala al-din melarikan diri ke sebuah pulau di Laut Kaspia, dan di tempat tersebut dia mati putus asa pada tahun 1220.

Jengis Khan juga mengutus anak-anaknya yaitu Tulii untuk menaklukkan Khurasan dan Juchi, dan Changhatai untuk menaklukkan wilayah Sri Darya bawah dan Khawarizmi. Jengis Khan menghadapi Sultan Muhammad, yang memimpin orang-orang Turki. Ia adalah seorang sultan yang ambisius dan pada awalnya menganggap remeh kekuatan Jengis Khan. Orang-orang Mongol menghantam basis kekuatan Sultan Muhammad, menghancurkan pemukiman dan meruntuhkan kota di Transoxania, Khawarizm dan Khurasan.

4 Dzulhijjah di Bukhara
Strategi perang bangsa Mongol adalah menanamkan trauma dan rasa takut serta menjatuhkan mental hingga musuhnya tidak berani melawan. Bangsa Mongol membunuh 700.000 penduduk Kota Marw, membobol bendungan dekat Gurganj hingga penduduk kota tersebut mati tenggelam, menuangkan emas yang mencair panas ke tenggorokan gubernurnya. Selama hampir setahun berlalu (617 H/ 1220 M) akhirnya Turkistan jatuh ke tangan Jengis Khan yang kemudian diikuti oleh Azerbaijan, Khurasan dan beberapa kota di Persia (618-619 H). Termasuk diantaranya adalah Bukhara.

Jengis Khan dan pasukannya bergegas melanjutkan serangan ke kota Bukhara kemudian membunuh penduduknya dan membakar madrasah-madrasah, masjid-masjid dan rumah-rumah. Tentara Mongol yang menunggangi kuda dan bersenjata busur-busur aneh menebar malapetaka dan kerusakan kemanapun mereka bergerak. Selanjutnya Jengis Khan melakukan invasi ke Samarkand dan kota-kota lain dengan melakukan pembantaian brutal dan menghancurkan populasi di kota-kota tersebut.

Kota Bukhara, yang menjadi kota kelahiran Imam Ilmu hadits, Imam Bukhari ditaklukkan oleh Jengis Khan setelah mengepungnya selama 3 hari. Meski penduduknya yang dikenal taat dan berpengetahuan, orang-orang Mongol menaklukkan kota ini dengan kejam. Mereka menempatkan kuda-kuda mereka di sekeliling masjid dan menyobek-nyobek al-Qur’an untuk dibuang di tempat sampah. Kejadian tersebut terjadi pada tanggal 4 Bulan Dzulhijjah. (wallohu a’lam bi as-Showab).[]


Selengkapnya ...

Sabtu, 23 Juli 2016

10 Rekomendasi Hasil Muktamar Wahdah Islamiyah



REKOMENDASI EKSTERNAL
MUKTAMAR III WAHDAH ISLAMIYAH
بسماللهالرحمنالرحيم

Dengan senantiasa memohon ridha,taufiq, dan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Muktamar III Wahdah Islamiyah memberikan rekomendasi kepada pihak eksternal sebagai berikut:

  1. Mengedepankan konsep Islam yang wasathiyah sebagai solusi permasalahan umat dan bangsa. Sikap wasathiyah adalah sikap pertengahan yang terbaik, utuh dalam memandang dan menyelesaikan segala permasalahan serta menghindarkan sikap dan pandangan ekstrem dalam segala hal.
  2. Menghimbau kepada kaum Muslimin untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjaga kewajiban-kewajiban agama, terutama shalat yang menjadi barometer keimanan dan keislaman seseorang.
  3. Tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menindak tegas terhadap gerakan separatisme dan paham-paham yang berpotensi merusak suasana kebangsaan Indonesia, seperti Komunisme, Liberalisme, Paham Syiah, Ahmadiyah, dan semisalnya. Termasuk dalam menjaga keutuhan NKRI adalah mewujudkan kedaulatan ekonomi dengan mengedepankan ekonomi syariah dan lebih berpihak kepada tenaga kerja dalam negeri, serta melindungi Indonesia dari kejahatan korupsi yang telah memberi dampak yang sangat buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
  4. Perlunya memandang demokrasi secara wasathiyah, berimbang dan hikmat dalam permusyawaratan yang proporsional secara kualitas dan kuantitas. Dimana demokrasi yang wasathiyah merupakan jalan tengah antara demokrasi terpimpin model orde lama, demokrasi semu model orde baru, dan demokrasi liberal model reformasi saat ini. Memilih pemimpin di setiap level yang amanah, jujur, santun dan berakhlak mulia.
  5. Mencermati semakin merebaknya bahaya narkoba, minuman keras, pornografi, yang umumnya berujung kepada kriminalitas dan kekerasan seksual sehingga mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan, bahkan sampai tahap darurat, terutama di kalangan generasi muda di kota dan di desa, maka dengan ini Wahdah Islamiyah mengimbau segenap komponen bangsa, rakyat dan pemerintah, bahu-membahu menanggulangi ancaman tersebut, serta mendorong aparat yang berwajib lebih serius menutup seluruh celah penyebarannya.
  6. Terorisme dan Radikalisme merupakan ancaman serius yang telah memporak-porandakan sendi kehidupan dan kemanusiaan, termasuk dalam konteks keumatan dan kebangsaan. Mengaitkan Islam dengan terorisme dan radikalisme adalah satu kekeliruan besar yang lahir dari kesalahan pandangan dan pemikiran.  Karena Islam adalah ajaran yang penuh kasih sayang dan kelembutan, walau tetap tegas dalam akidah dan prinsip. Menjadi kewajiban bagi semua komponen bangsa untuk bersinergi menghadapi masalah ini secara proporsional, komprehensif dan sungguh-sungguh.
  7. Persoalan global hakikatnya merupakan persoalan bangsa, apalagi dalam konteks keumatan, sehingga menjadi kewajiban bersama menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman. Kondisi kaum Muslimin di berbagai belahan dunia yang mendapatkan perlakuan sewenang-wenang, kezaliman dan ketidakadilan, wajib mendapat reaksi yang tepat dari umat. Meminta pemerintah secara proporsional memberi kontribusi aktif dan signifikan dalam penyelesaian berbagai konflik tersebut, serta memfasilitasi setiap warga negara Indonesia yang ingin memberikan bantuan kemanusiaan secara aman dan terjamin.
  8. Kekisruhan dan kegaduhan politik yang kadang dipicu oleh sikap arogan dan ketidaksantunan, yang faktanya justru menyisakan persoalan baru dalam dinamika politik. Memandang perlu mengimbau semua pihak, terutama elit politik, mengedepankan kesantunan, etika, moral dan ahlak yang akan berbuah manis bagi harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.
  9. Mengimbau kepada seluruh orang tua dan keluarga Indonesia agar memerhatikan dan menjalankan amanah sebagai pemimpin dan pengayom anak-anak dan keluarga dengan penuh cinta. Memberikan perlindungan dan pendidikan, terutama agama dan ahlak. Serta melakukan upaya maksimal mewujudkan kesejahteraan yang layak kepada mereka.
  10. Menghimbau kepada seluruh media agar senantiasa berpihak kepada kebenaran memberikan produk  tayangan dan tampilan berita yang mendidik dan menuntun, serta tidak terjebak dalam pragmatisme material semata yang faktanya banyak mengabaikan nilai agama dan moralitas, serta mendorong pihak KPI dan lembaga pengawasan media lainnya untuk menjalankan perannya dengan lebih baik.

Selengkapnya ...

Kesan dari Pengelola Asrama Haji Terhadap Wahdah Islamiyah


alBalaghMedia.com-- Muktamar III Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Pondok Gede (AHPG) Jakarta memiliki kesan tersendiri bagi pengelola Asrama Haji.

Pak Hafidz seorang pengelola gedung AHPG mengaku sangat senang bekerjasama dengan Wahdah Islamiyah. Menurutnya kebersihan tetap terjaga di AHPG selama berlangsungnya hingga selesainya Muktamar. Walaupun dengan jumlah peserta yang banyak tapi dapat terkontrol dengan baik.

Begitupun dengan pengakuan Pak H. Tarnam, seorang penjual yang telah bertahun-tahun menjual di lokasi AHPG. Pak Tarnam mengatakan bahwa baru kali ini dia melihat pelaksanaan kegiatan besar yang sangat memperhatikan kebersihan. “Bersih, tertib, rapi dan teratur dan tidak ada ribut-ribut.” Ungkapnya yang diamini satpam AHPG yang ada disampingnya.

Dari pantauan redaksi albalaghmedia.com baik panitia, peserta maupun pendukung muktamar Wahdah Islamiyah memang sangat memperhatikan kebersihan.

Bahkan menurut pengakuan salah seorang dari pengelola AHPG bahwa dia jadi malu-malu merokok karena melihat tidak ada dari kader-kader Wahdah Islamiyah yang merokok.[]
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media