Jumat, 02 Desember 2016

Akhir 4 Kasus Penistaan Agama Sebelum Ahok

Akhir 4 Kasus Penistaan Agama Sebelum Ahok


Oleh: Syamsuar Hamka

Meski sedikit menurun, tensi pemberitaan media terkait kasus penistaan agama oleh Gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok belum juga reda. Hal itu disebabkan tuntutan dari berbagai elemen umat islam di bawah koordinasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI atau GNPF-MUI belum sepenuhnya ditunaikan. Sebab selain menjadikan tersangka, Ahok juga dituntut sesuai Hukum Yurisprudensi yang berlaku juga sama dengan kasus sebelumnya dalam penistaan agama, yaitu ditahan.

Beberapa kasus diantaranya adalah Lia Aminuddin yang mengaku sebagai Malaikat Jibril, Ahmad Musadeq yang mengaku sebagai Nabi, Permadi dan begitu pula kasus Arswendo Atmowiloto.
Bagaimana akhir dari keempat kasus penistaan agama ini? Mari simak penjelasannya.

Pertama, Lia Aminuddin, atau yang akrab dipanggil Lia Eden pernah membuat gempar. Pada Agustus 1999 silam, Lia bersama 75 orang jemaahnya, atau yang dikenal dengan Jamaah Salamullah melakukan ritual memerangi Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul. Ritual di bibir pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, itu disebut Lia untuk membinasakan Nyi Roro Kidul, yang mereka anggap lambang kemusyrikan. Selain itu, pada Perayaan Natal 1999 ia mengirim sapaan selamat Natal lewat pos, yang dikirim ke 300 gereja di Indonesia. "Ini untuk mengurangi ketegangan SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)," kata Lia seperti dilansir tempo (http://m.tempo.co/read/news/2015/06/06/078672566/Begini-Perjalanan-Metamorfosa-Lia-Eden).
Memasuki periode tahun 2000 Lia pun dijebloskan ke penjara atas ajaran yang dianutnya. Ia yang mengaku pernah bertemu Bunda Maria, mendapat vonis Pertama, pada 29 Juni 2006 Pengadilan Negeri Jakarta Pusat selama dua tahun penjara. Lia terbukti bersalah karena telah menodai agama, melakukan perbuatan tak menyenangkan, dan menyebarkan kebencian. Kali kedua, giliran pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 2 Juni 2009 menjatuhkan hukuman penjara 2 tahun 6 bulan kepadanya. Dia dinilai terbukti melakukan penistaan dan penodaan agama.

Penodaan seperti apa? Dalam penjelasan Lembaga Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam diperoleh beberapa fakta bahwa, Lia mengaku mendapat wahyu dalam bahasa Indonesia dan setiap wahyu itu turun ditulis oleh seorang penulis wahyu yang senantiasa siap di depan komputer rumahnya di Bungur. Begitu selesai ditulis, wahyu-wahyu itu di-print out dan dikirimkan kepada seluruh organisasi Islam dan Pondok Pesantren di seluruh Indonesia. Selain itu, Lia Eden mengaku bersuami dengan Malaikat Jibril yang tinggal di Surga Eden dan senantiasa berhubungan suami istri (seperti manusia) dengan Malaikat Jibril di rumahnya di Bungur Jakarta. Kesemua itu tentu adalah ajaran yang keliru. Dan kesemuanya bermuatan penistaan agama karena mengambil simbol-simbol agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam.

Hampir sama dengan Lia Eden, kasus kedua adalah kasus Ahmad Musadeq juga dipenjarakan karena penistaan agama Islam. Ahmad Musadeq adalah mantan pimpinan aliran Al-qiyadah Al Islamiyah yang populer pada 2006 lalu karena mengaku diri sebagai rasul. Dia mengaku mendapatkan wahyu saat sedang bersemedi dan melaporkan hal ini kepada teman-temannya. Dia juga mengaku bertemu dengan malaikat Jibril dan diangkat menjadi rasul untuk membawa risalah yang baru. Ia menyatakan bahwa ajaran yang dibawanya adalah Millah Abraham yang merupakan sebuah komunitas ajaran yang dianggap sesat lewat Fatwa MUI karena mencampuradukkan ajaran Islam, Nasrani dan Yahudi. (http://atjehpost.co/ berita2/read/Cerita-Ahmad-Musadeq-dan-Alirannya-yang-Sering-Berubah-Nama-18640).

Terakhir, gerakan Ahmad Musadeq bermetamorfosa menjadi Gafatar, atau Gerakan Fajar Nusantara. Namun tidak berlangsung lama, Senin, 30 Mei 2016, setelah menghimpun barang bukti, Kepolisian Republik Indonesia berhasil menangkap dan memenjarakan tiga tersangka kasus makar dan penistaan agama yang dilakukan Gafatar ini. Ahmad Musadeq bersama Mahful Muis Tumanurung dan Andri Cahya yang merupakan anak Musadeq sendiri telah melakukan makar karena diduga berencana mendirikan Negeri Karunia Tuhan Semesta Alam dan menistakan agama. Berbagai barang bukti yang disita ini terdapat beberapa keping VCD dokumentasi deklarasi negara di daerah, akta akidah, akta pengorbanan, hingga tabloid Gafatar. Ada juga 15 unit laptop, telepon seluler, dan beberapa buku yang wajib dibaca oleh para pengikut Gafatar. Ia dan dua terlapor lainnya dijebloskan ke dalam penjara setelah berubah status menjadi tersangka.

Lain halnya dengan kasus ketiga, Kasus Permadi. Dalam sebuah unggahan video yang berdurasi beberapa menit itu, seorang Lelaki berumur mengungkapkan pernyataan tentang Kasus Ahok. Video yang sempat menjadi viral di media sosial tersebut berisi pernyataan Permadi yang mengaku juga pernah dijebloskan ke penjara karena menistakan agama.

Bagaimana sampai ia ditahan? Seperti dilansir panjimas.com, Permadi mengungkapkan kesepakatannya dengan rekannya, Rafly Harun yang menyatakan bahwa “Hanya ada satu diktator di dunia ini yang baik, yakni Nabi Muhammad. Karena bukan untuk kepentingan pribadi dan golongannya tapi untuk umatnya.” Permadi yang mendengarkan penyataan itu pun pun langsung bilang, “Saya sependapat dengan anda, Nabi Muhammad adalah diktator yang baik seperti yang anda katakan,”. Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah peristiwa itu disebar dalam rekaman yang dipotong-potong. Ucapan Rafly Harun dihilangkan, dan yang ada hanya jawaban Permadi, “Nabi Muhammad Diktator.” Penggalan itu pun Disebarluaskan ke umat Islam dan akhirnya menuai protes keras. Ribuan umat Islam datang ke Kejaksaan Agung, dan ke rumah Permadi sambil membawa poster yang bertuliskan “Tangkap Permadi”, “Gantung Permadi”, “Darah Permadi Halal”, dan akhirnya ia pun langsung ditangkap dan dipenjara.” (lihat: http://www.panjimas.com/news/2016/11/21/inilah-cerita-permadi-saat-dirinya-ditangkap-atas-kasus-penistaan-agama/)

Kasus tersebut mirip dengan kasus keempat, Kasus Arswendo. Menurut penuturan ahli hukum pidana, Teuku Nasrullah seperti dilansir Hidayatullah.com, Arswendo juga sebenarnya tidak sengaja menista dan membuat kegaduhan umum. Kasus Arswendo Atmowiloto pada tahun 1990 terjadi saat ia (Arswendo) membuat polling di Tabloid Monitor, siapa tokoh idola menurut para pembacanya. Menurut hasil polling yang dirilis tabloid itu, nama Presiden Soeharto berada di urutan pertama. Disusul kemudian dengan nama BJ Habibie, Soekarno, lalu musisi Iwan Fals. Nama Arswendo masuk ke dalam urutan ke-10, sementara Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam berada pada urutan ke-11. Hal ini kembali menuai reaksi dari umat Islam. Muncul kemarahan dan ia pun dilaporkan atas tuduhan penghinaan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Meski Arswendo berkilah, bahwa ia tidak punya maksud atau sengaja menghina Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, namun ia tetap dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. Hal tersebut menurut Nasrullah, adalah karena faktor kesengajaan dalam pasal penistaan agama bukan kesengajaan dalam maksud. Tapi kesengajaan yang dapat diduga mengetahui bahwa perbuatannya menista agama dan mengganggu ketertiban umum. Arswendo dihukum karena patut mengetahui perbuatannya mengganggu ketertiban umum. “Sebab, pasal 156 ada di bawah Bab Ketertiban Umum. Penistaan agama tidak di bawah pasal agama tapi di bawah Bab Ketertiban Umum. Ini tentang ketertiban umum. Setiap orang harus menjaga ketertiban umum,” ujar Nasrullah. (lihat: http://www.hidayatullah.com/ berita/nasional/read/2016/11/11/104895/arswendo-mengaku-tak-sengaja-menista-agama-tapi-dihukum-4-tahun-penjara.html).

Jika melihat ke-empat kasus Penistaan di atas, maka seharusnya apa yang menimpa Gubernur Non Aktif DKI Jakarta, BTP alias Ahok haruslah juga diterapkan sama. Sebab keempat-empatnya ditahan oleh Kepolisian saat statusnya menjadi Tersangka. Hal itu, dalam logika sehat kita bahwa hukum adalah instrument tertinggi dalam menegakkan keadilan. Keadilan tidaklah melihat siapa pun. Sebab semua sama di mata hukum. Supremasi hukum harus ditegakkan. Dan Ahok juga harus merasakan apa yang telah dilakukan oleh 'pendahulunya', yang telah menista agama. (Wallahu a'lam bi as-Shawab).[]

(Penulis adalah Alumnus Program Kaderisasi 1000 Ulama DDII-Baznas 2016, Penulis Buku 'Api Tarbiyah')
Selengkapnya ...

Jumat, 18 November 2016

Ulama; Pewaris Nabi

 

Ulama Pewaris Nabi


Para ulama memiliki kedudukan yang mulia dan agung di sisi Allah. Allah telah meninggikan derajat mereka dan mengistimewakan mereka dari yang lainnya. Allah Azza wa Jalla berfirman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Terjemahan QS. al-Mujadilah/58 : 11).

Banyak nash-nash yang menyebutkan keutamaan dan keistimewaan Ahli Ilmu. Konsekuensi dari nash-nash tersebut, adalah wajibnya menghormati dan menjunjung tinggi kehormatan para ulama. Karena mereka merupakan pewaris Nabi, penerus misi dakwah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat Beliau radhiyallahu 'anhum.

Dalam sebuah atsar (riwayat) yang populer disebutkan, jadilah seorang alim, atau seorang penuntut ilmu, atau seorang penyimak ilmu yang baik, atau seorang yang mencintai Ahli Ilmu dan janganlah jadi yang kelima, niscaya kalian binasa.

Salah seorang ulama Salaf mengatakan: “Maha suci Allah, Dia telah memberi jalan keluar bagi kaum muslimin. Yakni tidak akan keluar dari keempat golongan manusia yang dipuji tadi, melainkan golongan yang kelima, golongan yang binasa. Yaitu seorang yang bukan alim, bukan penuntut ilmu, bukan penyimak yang baik dan bukan pula orang yang mencintai Ahli Ilmu. Dialah orang yang binasa. Sebab, barangsiapa membenci Ahli Ilmu, berarti ia pasti mengharapkan kebinasaan mereka. Dan barangsiapa yang mengharapkan kebinasaan Ahli Ilmu, berarti ia menyukai padamnya cahaya Allah di atas muka bumi. Sehingga kemaksiatan dan kerusakan merajalela. Kalau sudah begitu keadaannya, dikhawatirkan tidak akan ada amal yang terangkat. Demikianlah yang dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri.”

Menghormati ulama termasuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu memuliakan orang tua yang muslim, orang yang hafal Alquran tanpa berlebih-lebihan atau berlonggar-longgar di dalamnya dan memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud).

Ubadah bin Shamit radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim.” (HR. al-Hakim).

Berdasarkan nash-nash di atas, jelaslah bahwa kewajiban setiap muslim terhadap para ulama dan orang-orang shalih adalah mencintai dan menyukai mereka, menghormati dan memuliakan mereka, tanpa berlebih-lebihan atau merendahkan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Mengolok-olok ulama dan orang-orang shalih, mengejek atau melecehkan mereka, tentu saja bertentangan dengan perintah untuk mencintai dan memuliakan mereka. Melecehkan ulama dan orang shalih, sama artinya dengan menghina dan merendahkan mereka.

Mengolok-Olok Ulama Sifat Orang Munafik

Mengolok-olok dan memandang rendah Ahli Ilmu dan orang shalih, termasuk sifat orang kafir dan salah satu cabang kemunafikan. Sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat, diantaranya:
“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia dari pada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas.” (Terjemahan QS. al-Baqarah: 212)

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla menjelaskan tentang kebiasaan orang-orang munafik:
“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.” (Terjemahan al-Baqarah: 14-15).

Dalam ayat lain, Allah Azza wa Jalla menjelaskan pula:
“(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu'min yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih.” (Terjemahan QS. At-Taubah: 79).

Musuh-musuh Islam, diantaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani serta orang-orang munafik yang mengikuti mereka, senantiasa berusaha menjelek-jelekkan citra ulama Islam, berusaha meruntuhkan kepercayaan umat kepada para ulama dengan sindiran-sindiran dan komentar-komentar negatif tentang ulama. Hal ini perlu diwaspadai oleh kaum muslimin. Mereka jangan sampai ikut-ikutan menjelek-jelekkan alim ulama.

Dalam Protokalat Yahudi, pada protokolar nomor 27 disebutkan sebagai berikut: Kami telah berusaha sekuat tenaga untuk menjatuhkan martabat tokoh-tokoh agama dari kalangan orang-orang non Yahudi dalam pandangan manusia. Oleh karena itu, kami berhasil merusak agama mereka yang bisa menjadi ganjalan bagi perjalanan kami. Sesungguhnya pengaruh tokoh-tokoh agama terhadap manusia mulai melemah hari demi hari.

Jadi jelaslah, setiap tindakan yang bertujuan mendiskreditkan para ulama dan tokoh agama termasuk tindakan makar terhadap agama ini. Pelakunya harus dihukum dan ditindak tegas. Pelecehan terhadap para ulama dan orang shalih ada dua:

Pertama : Pelecehan terhadap pribadi ulama.
Misalnya orang mengejek sifat-sifat tertentu yang dimiliki oleh ulama tersebut. Demikian ini hukumnya haram.
Ibnu Katsir dalam menafsirkan al-Hujurat ayat 11 menyatakan: “Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang mengolok-olok orang lain. Yaitu merendahkan dan menghinakan mereka. Sebagaimana disebutkan sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa Beliau bersabda: Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menghinakan orang lain.”

Kedua: Mengolok-olok ulama karena kedudukan mereka sebagai ulama, karena ilmu syar'i yang mereka miliki.

Demikian ini termasuk perbuatan zindiq, karena termasuk melecehkan agama Allah. Demikian pula mengolok-olok orang shalih, orang yang menjalankan Sunnah Nabi. Allah telah menggolongkan pelecehan terhadap orang-orang yang beriman sebagai pelecehan terhadapNya. Dalam surat At Taubah, Allah berfirman (yang artinya):

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” (Terjemahan at-Taubah : 65).
Ayat ini turun berkenaan dengan perkataan orang-orang munafik terhadap para qari' “Belum pernah kami melihat orang seperti para qari' kita ini, mereka hanyalah orang-orang yang paling rakus makannya, paling dusta perkataannya dan paling penakut di medan perang.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut.
Dalam Fatwa Lajnah Daimah disebutkan: “Mencela Islam, mengolok-olok Alquran dan As Sunnah, serta mengolok-olok orang-orang yang berpegang teguh dengannya karena ajaran agama yang mereka amalkan, seperti memelihara jenggot dan berhijab bagi wanita muslimah, maka perbuatan seperti itu termasuk kufur, bila dilakukan oleh seorang mukallaf ((orang baligh yang berakal sehat) dan harus dijelaskan kepadanya, bahwa perbuatan itu kufur. Jika ia tetap melakukannya setelah mengetahuinya, maka ia bisa jatuh kafir, karena Allah Azza wa Jalla mengatakan:

Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. (Terjemahan QS. at-Taubah: 65).

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan, bahwa melecehkan ulama termasuk dosa besar. Para ulama menggolongkannya sebagai perbuatan kufur dan nifak. Semoga Allah menjauhkan kita darinya.[]
Selengkapnya ...

Membela Al-Qur'an


membela al-Quran


Oleh Syamsuar Hamka (Ketua Dept. Kajian Strategis PP LIDMI Indonesia)

4 November yang lalu, bangsa Indonesia telah memperlihatkan sebuah aksi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aksi damai yang kemudian disusupi provokator yang ingin merusak dan memperkeruh keadaan.

Bukan cuma di Ibukota, Jakarta. Namun hampir seluruh Kota Besar di Indonesia melakukan aksi yang sama pada tanggal tersebut. Tuntutannya satu, meminta kepada apparat penegak hokum untuk mengakkan hokum seadil-adilnya kepadanya Gubernur Non-Aktif Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok.

Dalam pidato kontroversialnya, Ahok dengan jelas membuat ketersinggungan kepada umat Islam. Ia membahas tafsir atau setidaknya mengartikan al-Qur'an dari Surah al-Maidah ayat 51. Dala situs beritagar.id, 6/10/2-16, Basuki mengungkapkan "Jadi jangan percaya sama orang, kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu enggak pilih saya. Dibohongin pakai surat Al Maidah ayat 51, macam-macam itu. Itu hak bapak ibu."

Atas pernyataan Ahok tersebut, sontak mengundang reaksi dari kaum Muslim di berbagai daerah, hingga isunya menjadi nasional bahkan mendunia. Ucapan itu menurut MUI menunjukkan ada unsur penistaan. Ketua MUI Ma’ruf Amin menjelaskan, penghinaan itu, karena Ahok menyebut kandungan dari surah Al-Maidah itu sebuah kebohongan, maka hukumnya haram dan termasuk penistaan terhadap Al-Quran serta yang menyebarkan surah Al-Maidah tersebut pembohong. Padahal, MUI melihat orang yang kerap menyebarkan surah tersebut tak lain merupakan para ulama. (lihat: merdeka.com, 12/10/2016). Selain itu beberapa Ormas Islam yang lain seperti PBNU juga menyatakan hal tersebut.

Demikian pula, Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) juga menyatakan sikapnya terhadap kasus dugaan penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, alias Ahok. ICMI menilai, perbuatan Ahok jelas-jelas tercela yang dibuktikan dengan permintaan maaf yang bersangkutan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). (Lihat: Republika.co.id, 20/10/2016).

Pada waku yang berbeda, KH Hasyim Muzadi juga menyatakan hal yang sama. “siapa pun yang berani menista Allah, Rasul-Nya, dan Al-Qur’an tidak ada yang bisa selamat. Mengapa? Karena umat Islam di manapun berada, tidak pernah bisa menerima penistaan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan Kitab Suci-Nya.”, tandasnya. (Republika.co.id, 28/10/2016)

Hasil dari gerakan massa yang massif di seluruh kota, hingga dunia internasional adalah proses penistaan al-Qur'an yang dilakukan oleh Ahok tersebut diproses secara hukum oleh pihak yang berwenang. Dalam pidatonya di hadapan pers dan massa, Wakil Presiden RI, Muhammad Jusuf Kalla menyampaikan bahwa kasus tersebut, setidaknya akan diselesaikan dalam jangka waktu dua pekan, dihitung sejak hari tersebut.
Hingga kini, warga masih menunggu berita-berita yang terus dilayangkan oleh media. Di dunia maya, perdebatan maya tentang kasus tersebut belumlah berakhir. Ada yang membela dengan alasan penggunaan kata 'pakai' berbeda jika kata tersebut jika tanpa menggunakan kata pakai.

Yang membelanya kebanyakan adalah orang-orang Sekuler, Non Muslim hingga Ateis. Kita tentu patut heran, karena mereka yang tidak tahu Islam, 'sok-sok' mengajari Muslim tentang tafsir al-Qur'an.
Padahal, semua Mufassir Mu'tabar sudah jelas menyatakan larangan dalam QS. Al-Maidah jelas dan tegas. Sedangkan makna yang lain, misalnya "Teman Setia", memang bisa menjadi alternatif maknanya. Namun, bukan satu-satunya makna yang pas. Cara menentukan makna yang tepat adalah dikembalikan kepada ilmu Ushul at-Tafsir. Bukan orang yang tidak tahu bahasa Arab, apalagi ilmu tafsir!.

Disitulah 'pelanggaran berat' Ahok. Seperti kata AA Gym, lewat batas alias Off Side. Ia tidak punya otoritas sama sekali berbicara tentang hal itu. Namun di depan warga kepulauan Seribu ia seolah-olah begitu yakin dengan yang dibicarakannya. Celakanya, dengan pakaian dan kunjungan dinas Gubernur.

Namun, yang menjadi persoalan adalah Gubernur non-Aktif, Basuki Tjahaja Purnama-lah yang masuk dalam domain MUI. Ia bahkan dengan begitu yakin bahwa banyak warga telah dibohongi dengan al-Qur'an agar tidak memilih dirinya. Ahok menuturkan, bahwa persaingan tersebut bukanlah persaingan yang sehat, sebab membawa masalah SARA dalam perpolitikan. Apalagi menggunakan ayat-ayat yang suci untuk berebut suara dalam ranah politik praktis.

Jika didengarkan, mungkin seakan-akan benar adanya. Namun, perlu digarisbawahi bahwa hal tersebut secara tidak langsung telah mengacaukan pikiran kita. Sebab, dengan pernyataan tersebut, kita telah menempatkan al-Qur'an lebih rendah dari hukum buatan manusia.

Jika memang itu adalah SARA, maka al-Qur'an justru mengajarkan umat islam selalu membincang SARA. Sebab dalam al-Qur'an ada derajat kesalihan yang tidak bisa dipahami dalam kacamata sekuler. Seorang Pemabuk sangat beda nilai pembelaan kita kepadanya dibanding seorang ulama. Orang yang pemabuk, pencuri, pezina secara akal sehat akan kita tolak menjadi pemimpin, lalu bagaimana dengan orang yang tidak menyembah Allah!?. Sekali lagi, ini yang sulit dipahami oleh orang-orang sekuler. Ketaqwaan tidak bisa dipisahkan dari apa pun dalam pandangan seorang muslim.

Secara 'sarih', tegas dan lugas, Qur'an telah melarang seorang muslim menjadikan orang yang tidak seaqidah sebagai seorang Pemimpin. Inilah yang diperjuangkan dan dipertahankan MUI. Para ulama punya otoritas untuk itu. Hanya saja, mereka tidak mengeluarkan dan menyebarluaskan fatwa tentang larangan mengangkat pemimpin kafir. Tentu itu demi kepentingan bangsa dan negara. Bahwa jika fatwa tersebut disebarluaskan, justru akan menjadi persoalan dalam menjaga keutuhan bangsa dan NKRI.

Kinerja Majelis Ulama adalah sangat berat. Sebab ia harus mengerahkan seluruh potensi yang mereka miliki untuk menjaga umat dari kerusakan, begitu pula menjaga bangsa dari perpecahan. Kita bisa melihat pada kasus yang sama. Yaitu terkait dengan fatwa ucapan selamat natal yang pernah dipermasalahkan karena menurut orang sekuler, tidak sesuai dengan asas-asas negara dan pluralitas bangsa. Fatwa tersebut dinilai bisa menjadi sumber 'biang kerok' perselisihan dan perpecahan bangsa, sehingga diminta untuk dicabut.
Namun apa ya g dilakukan oleh ketua MUI saat itu, Prof. Dr. Hamka adalah sangat tegas. Beliau rela mundur dari jabatannya, daripada menarik fatwa tersebut. Hal itulah yang seharusnya diperlihatkan oleh para pemimpin bangsa ini. Tampil dalam membela kebenaran, bukan ikut latah dan gamang dalam persoalan umat.
Seharusnya juga, kita memahami bahwa kebenaran tidak-lah boleh diubah. Sebab meninggalkan kebenaran, serta mendiamkan kemaksiatan adalah bentuk kedzaliman. Tidak menasihati kekeliruan tentu adalah kedzaliman. Sebab membiarkan seseorang jatuh dalam jurang, itu berarti kita telah mendzalimi orang tersebut. Amir Al-mukminin Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, berkata:

يَا حَمَلَةَ الْعِلْمِ اعْمَلُوا بِهِ ، فَإِنَّمَا الْعَالِمُ مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَوَافَقَ عِلْمُهُ عَمَلَهُ .

"Wahai yang mengemban ilmu (ulama) beramallah kalian dengan ilmu tersebut; karena sesungguhnya orang alim itu adalah siapapun yang beramal dengan apa yang ia ketahui dan amalnya sejalan dengan amalnya." (al-Imam al Hafidz Abu Zakaria an Nawawi al Asy'ari asy- Syafi'I, at Tibyan fii Adabi Hamalatil Quran, hal 13);

Itulah yang dilakukan oleh para ulama kita. Mereka membela al-Qur'an dari tuduhan dan penyelewengan. Agar umat ini bisa menetapi jalan yang benar, tidak dimakar dengan makar-makar yang membuat hilangnya kekuatan dan kejayaan agama.

Terakhir, mari mempelajari Islam yang lebih intensif. Jangan biarkan 'ilmu' kita digelayuti syubhat. Hingga membuat kita gamang dan latah dalam bersikap.
Wallahu a'lam bi ash-Shawab.[]
Selengkapnya ...

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media