Minggu, 01 Desember 2013

Islam dalam Mengatasi Pengangguran


albalaghmedia.com. Pengangguran menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi pemerintah saat ini. Setiap tahun jumlah pengangguran mengalami tren peningkatan. Meski pemerintah mengklaim telah berhasil mengurangi jumlah pengangguran sebanyak 70.000 orang sepanjang tahun 2013, tapi jumlah tersebut masih sangat sedikit dibanding dengan jumlah pengangguran di Indonesia saat ini yang mencapai 7,17 juta angkatan kerja.

Ketatnya persaingan dalam dunia kerja kadang menyebabkan seseorang tidak mempedulikan lagi norma-norma agama. Bahkan sebagian orang terperosok ke dalam dosa syirik seperti mendatangi dukun, ziarah ke makam yang dianggap keramat dengan keyakinan agar dimudahkan untuk mendapat pekerjaan atau agar karirnya lancar. Suap menyuap untuk mendapatkan posisi atau pekerjaan tertentu seolah menjadi rahasia umum di tengah masyarakat. Selain itu, maraknya kriminalitas sering dikaitkan sebagai dampak banyaknya pengangguran dan kemiskinan.

Salah Kaprah terhadap Rezeki
Kurangnya sumber daya alam untuk mencukupi kebutuhan populasi manusia yang terus bertambah menjadi alasan untuk memaklumi akan jumlah pengangguran dan kemiskinan yang terus meningkat. Apakah betul begitu? Apakah Allah Subhanahu wa Ta'ala salah perhitungan dalam menciptakan alam semesta beserta isinya? Na'udzubillah.

Pandangan negatif tersebut menimbulkan persaingan yang tidak sehat dalam dunia kerja. Sebagian manusia menjadi rakus dalam mencari rezeki, mereka tidak mencukupkan diri dengan yang halal saja, bahkan milik orang lain pun diincarnya. Halal haram bukan lagi masalah baginya.

Padahal pandangan tersebut jelas keliru, bathil, dan bertentangan dengan fakta.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia, sekaligus menyediakan sarana-sarana untuk memenuhi kebutuhannya. Bahkan tidak hanya manusia; seluruh makhluk yang telah, sedang, dan akan diciptakan, pasti Allah menyediakan rezeki baginya. Tidaklah mungkin, Allah menciptakan berbagai makhluk, lalu membiarkan begitu saja tanpa menyediakan rezeki bagi mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberikan rizki.” (QS. ar-Rum: 40)
“Tidak ada satu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi 'Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan 4 kata : Rizki, Ajal, Amal dan Celaka/bahagianya.…” (HR. Bukhari 3208 dan HR. Muslim 2643)
Dari ayat dan hadits tersebut dapat kita pahami bahwa setiap manusia telah dijamin rezekinya. Rezeki tersebut takkan beralih tangan atau diambil oleh orang lain. Hanya saja kewajiban manusia untuk mencarinya dari jalan yang halal. Ketika seseorang mencari rezeki dengan cara yang halal maka dia tidak akan mendapatkan kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Begitupun ketika ia mencarinya dengan jalan dan cara yang haram maka tidak juga tidak akan mendapatkan melebihi jatah yang telah ditetapkan baginya.

Perintah Islam untuk Bekerja

Islam mewajibkan laki-laki yang mampu, untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Maka berjalanlah ke segala penjuru, serta makanlah sebagian dari rizeki-Nya.” (QS. al-Mulk: 15)
Dari Abu Hurairah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh pagi-pagi seseorang berangkat, lalu membawa kayu bakar di atas punggungnya, ia bersedekah dengannya dan mendapatkan kecukupan dengannya, sehingga tidak minta-minta kepada orang lain, jauh lebih baik baginya daripada meminta kepada orang lain, baik mereka memberinya atau menolaknya....'' (HR. Muslim dan Turmudzi)

Ayat dan hadits di atas menunjukkan  kewajiban bagi laki-laki untuk bekerja mencari nafkah. Bagi para suami, syariat juga mewajibkan mereka untuk memberi nafkah kepada anak dan istrinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf.” (QS. al-Baqarah: 233)
Setiap laki-laki yang mampu bekerja, Islam mewajibkannya untuk berusaha sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Adapun terhadap wanita, Islam tidak mewajibkan mereka untuk bekerja, tetapi Islam mewajibkan wali atau suaminya memberi nafkah kepada mereka.

Islam tidak menyukai laki-laki yang bermalas-malasan dan hanya menggantungkan hidupnya kepada orang lain.

Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu melihat seseorang yang pagi-pagi berada di masjid dan shalat dhuha. Setelah itu ia berdoa kepada Allah dengan khusyuknya. Umar melihat orang tersebut lama sekali berada di masjid dan tidak keluar-keluar. Akhirnya Umar mendekati orang tersebut dan menanyakan mengapa dia di masjid. Pemuda tersebut menjawab bahwa dia beribadah dan berdoa kepada Allah agar memberinya rezeki. Umar marah dan mengusir orang tersebut. ”Pergi kau dari sini. Langit tidak akan pernah menurunkan emas atau perak. Sampai kapan pun kau berdoa tanpa berusaha jangan harapkan kau memperoleh rezeki.”

Islam Dalam Mengatasi Pengangguran

Penyediaan lapangan pekerjaan merupakan kewajiban bagi pemerintah  berdasarkan dalil,
“Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala, dan dia akan diminta pertanggungjawaban atas gembalaannya (rakyatnya). “(HR. Bukhari dan Muslim)
Islam telah mengajarkan cara yang paling ideal dalam mengatasi pengangguran. Suatu ketika datang kepada Rasulullah dari kalangan Anshar untuk meminta-minta (pengemis). Lalu Rasulullah bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Saya mempunyai pakaian dan cangkir.” Kemudian Rasulullah mengambil sebagian pakaian dan cangkir tersebut untuk dijual kepada para sahabat. Salah seorang sahabat sanggup membeli barang-barang tersebut seharga dua dirham. Selanjutnya Rasulullah membagi uang yang didapat tersebut untuk sebagian dibelikan keperluan kebutuhan keluarga pengemis tersebut dan sebagian lagi dibelikan kapak sebagai sarana untuk berusaha mencari kayu bakar. Akhirnya dengan usahanya sang pengemis mendapatkan uang sebanyak sepuluh dirham.
Kisah ini mungkin sering kita dengar akan tetapi jarang kita mau mengambil hikmah untuk menganalisa suatu permasalahan hidup. Khusus dalam permasalahan pengangguran hal ini dapat menjadi cara yang ideal untuk diterapkan.

Kita juga sering mendengar ini, “berikan pancing, jangan memberi umpan” tapi ini adalah kebijakan yang lemah. Coba kita bayangkan orang yang sedang memancing, mengharapkan ikan akan tersangkut di mata kail dengan penuh ketidak pastian. Jika dapat syukur, jika tidak dapat maka pemancing (pengangguran) akan mati kelaparan.

Bagaimana dengan teladan Rasulullah yang ditujukan oleh pengemis tadi? Rasulullah tidak langsung memerintahkan pada pengemis itu untuk membeli kapak, tetapi Rasulullah membelikan kebutuhan pokok (primer) terlebih dahulu. Setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi maka barulah Rasulullah memerintahkan untuk membeli kampak. Dimana perbedaannya? Perbedaannya jelas sangat jauh, Rasulullah memikirkan kebutuhan hidup sang pengangguran kemudian membantunya dalam melihat peluang usaha. Jika pada hari pertama pengemis tadi tidak mendapatkan penghasilan dari berjualan kayu bakar, ia tidak perlu terlalu susah hati karena sebagian uang telah dibelikan kebutuhan pokoknya.

Teladan tersebut layak untuk dijadikan acuan berfikir oleh pemerintah bagaimana  membuat sebuah kebijakan yang benar dan baik untuk mengatasi tingkat pengangguran yang semakin hari semakin meningkat ini. Tidak lagi sekedar umpan, atau sekedar pancing tetapi harus berjalan keduanya sekaligus.

Pola Pikir yang Salah
Sebagian orang kadang berkutat pada pola pikir yang salah tentang pekerjaan. Mereka baru menganggap bekerja jika duduk dalam kursi kantor, menjadi karyawan swasta atau PNS dengan gaji tetap perbulannya. Pola pikir inilah yang menjadikannya berstatus pengangguran dalam waktu yang lama. Padahal pintu-pintu rezeki yang disediakan Allah tidak hanya sebatas lewat bendahara kantor.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman (yang artinya):
“...maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu'ah: 10)
Ayat diatas menunjukkan bahwa karunia Allah sangat luas.

Saat ini orang-orang yang mau terjun ke sektor riil seperti pertanian sudah sangat kurang. Mungkin ini sebagai akibat dari pola pikir yang salah dari dulu. Para petani menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi agar anaknya bisa bekerja di kantoran dengan alasan agar hidupnya tidak lagi susah seperti dirinya. Jika semua petani berpikiran demikian maka pantas saja saat ini orang-orang yang hanya mau kerja di kantoran membludak, sedangkan lahan-lahan pertanian menjadi terbengkalai. Jadilah negara kita kekurangan pangan dan menjadi salah satu negara pengimpor hasil pertanian termasuk kedelai yang sekarang ini menjadi barang langka, padahal dulu Indonesia dikenal sebagai pengekspor kedelai. Ini menjadi ironi bagi negara agraris.
Jadi, selain membuka lapangan pekerjaan, pemerintah harus berupaya untuk mengubah pola pikir yang salah sebagian masyarakat tentang hakekat pekerjaan dengan pendekatan ajaran Islam yang sebenarnya. Wallahu a’lam.[]

1 komentar:

  1. Amien inshaAllah semoga kita termasuk dalam golongan orang2 sholeh
    terimakasih buat infonya perlu SHARE nih

    BalasHapus

Berita

Kajian

Koreksi

Kisah

Muslimah

Khazanah

Catatan Kecil

Opini

Dari Ummat

Dibolehkan menyebarkan konten website ini tanpa perlu izin dengan tetap menyertakan sumbernya. Tim al-Balagh Media